Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Selasa

Lelaki dengan Kopia Resam

TIGA jam sudah berlalu, jet foil yang membawaku baru saja merapat di pelabuhan Muntok. Di sudut pulau, terlihat jelas sebuah mercusuar yang masih nampak gagah menatap setiap kapal yang hendak singgah. Ia seolah penjaga tua yang enggan dianggap renta..

“Uhs..shh!” kutarik nafas panjang sembari memperbaiki posisi duduk. Penatnya perjalanan tak begitu kurasakan. Semuanya terkalahkan oleh kerinduanku pada emak, bapak, dan adik Tyo yang masih kelas enam SD. Bagaimana tidak dua tahun bukan waktu yang singkat. Dan selama kurun waktu itu, aku benar-benar tumbuh bersama keras hari-hari didaratan – menuntut ilmu dan bekerja untuk membiayai kuliah.

Moncong jet foil mulai mencium pembatas dermaga, dan langsung disambut belasan laki-laki berseragam. Mereka dengan tergesa naik ke dek kapal, berebut menawarkan jasa angkut barang. Aku masih belum beranjak dari kursi. Pandangan kini kuarahkan pada bibir dermaga. Beberapa mobil minibus Mitsubishi L300 berjejer, siap menjemput penumpang yang akan meneruskan perjalanan ke kota lain.

”Maaf bang, ada barang?” Tanya seorang buruh angkut membuyarkan lamunanku.

”Ada.” jawabku sembari menyerahkan karcis pas barang.

”Tiga koli.” lanjutku. Buruh bertubuh gempal dengan mengenakan celana setengah tiang itu kemudian berlalu. Sementara aku mulai keluar dari kapal.

Siang itu, matahari begitu menyengat dan memaksaku menanggalkan jaket pemberian bapak satu tahun silam – sebagai kado ulang tahun. Sambil menunggu buruh mengambil barang. Aku berjalan ditepian dermaga yang panjangnya tak lebih dari lima puluh meter. Disepanjang dermaga penuh sesak dengan penumpang, para penjemput, kuli pelabuhan sampai para tukang ojek. Belum lagi ditambah kapal pengangkut barang di kanan dermaga yang juga sedang melakukan kegiatan bongkar muat. Semuanya membaur menjadi satu di pelabuhan yang konon usianya telah lebih dari dua ratus tahun.

Bang, pulang ke mane?” sekali lagi buruh angkut membuyarkan lamunanku.

”Ke Sungailiat!” jawabku singkat. Tak banyak yang kulakukan setelah itu. Selain melepaskan kembali pandangan ke setiap sudut pelabuhan. Barangkali tak banyak yang tahu akan keberadaan dermaga yang dibangun pada masa pemerintahan tuan-tuan Inggris, sekitar 1812-1816.

”Muntok adalah pelabuhan pertama yang dibangun di Bangka. Pemerintah Inggris melihat posisi kota Mentok yang terletak di pantai selatan Pulau Bangka bagian barat sangat strategis, karena langsung berhadapan dengan Palembang.” begitu kata pak Taufik guru sejarah SMA dulu.

Sesaat kemudian aku telah berada di ujung demaga. Posisi pelabuhan kecil ini begitu tersembunyi di dalam teluk, tentunya menguntungkan bagi kapal-kapal untuk berlindung dari ombak musim barat dan musim utara. ”Mungkin inilah yang sempat membuat Thomas Stanford Raffles kecewa ketika pemerintah Inggris menyerahkan Bangka kepada Belanda sebagai bagian dari perjanjian Traktat London ratusan tahun silam.” pikirku kemudian.

”Sudah lama tidak pulang ya?” tiba-tiba dari belakang datang suara mengejutkan perjalanan otak.

Hanya anggukan yang kuberikan, lelaki itupun tersenyum dan mendekat. ”Dulu diujung dermaga ini ada sebuah jembatan yang menjorok ke laut. Penumpang kapal-kapal besar biasa naik-turun menggunakan jembatan itu ke kapal yang lego jangkar di perairan.” lelaki tadi dengan santainya mulai bercerita tanpa diminta.

”Anak muda seperti dirimu sudah cukup sering kutemui di sini, yah sama seperti yang kau lakukan sekarang.”

Lelaki itupun terdiam sejurus kemudian. Sembari membenarkan letak kopiah resam yang menutupi rambut uban, dari bibir tuanya mulai bertutur lagi.

”Namun, jembatan itu rusak berat akibat dibom Jepang. Pada tahun 1949, sesaat sebelum penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Republik, sisa jembatan besi tersebut dibongkar seluruhnya oleh Belanda.”

”Ehm....Uhs....dan yang tersisa, seperti yang kau lihat sekarang. Hanyalah kolam pelabuhan seluas dua hektar dengan kedalaman air antara tiga sampai empat meter.”

”Bangka sesungguhnya membentang dari dua hingga tiga derajat ke arah timur. Kau pasti telah mengunjungi pulau itukan?” tanya pak tua.

”Sumatera?” jawabku.

”Gagah betul pulau ini dengan membentuk sebuah selat kecil. Ramai kapal berlayar dari Jawa maupun Sumatera menuju Eropa, Tiongkok, dan Jepang. Ia menjadi bagian penting dalam catatan sejarah pelayaran Nusantara yang hampir-hampir tak pernah mau dicatat.”

Aku terdiam dan semakin mendekat pak tua yang terus berceloteh seperti pelajaran sejarah.

”Tak hanya Timah atau pun Lada Putih yang tiap hari keluar pelabuhan ini, tetapi gadis-gadis cantik berparas melayu ikut mereka bawa dan para cukong hanya tertawa dipinggiran dermaga.”

Kubalikan tubuh dan menghadap sisi lain dari lelaki tua tadi, aku masih ingat cerita tentang bijih timah yang mendekati permukaan tanah – hingga putih itupun dengan mudah ditemukan orang-orang dari Kesultanan Palembang.

”Kenapa kau mempercayai dongeng itu juga” tiba-tiba lelaki itu kembali memotong perjalanan otakku.

Aku seolah-olah lelaki keci yang bodoh dengan alur pikirku pun mampu dibacanya. ”Jangan-jangan dia tahu juga kalo dari tadi aku kebingungan” terkaku.

”Jangan kau persulit dirimu sendiri, lebih rileks akan membuatmu menikmati perjalanan.”

Spontan kedua ujung alisku bertemu. ”Apalagi maksud lelaki tua ini”

”Pulau yang kau kenal bernama Bangka ini, dulunya benar ada sejumlah kecil timah metalik muncul ketika sebuah lapangan dibakar untuk dijadikan ladang oleh kakek buyutmu.”

”Tapi itu serta merta bisa kau yakini kebenarannya, atau kau lebih suka versi dongeng yang kusebut dengan dongeng debu timah.” cerocos lelaki tua mencoba membuatku tertarik.

”Debu Timah?” pikiranku semakin kacau dan tak jelas.

”Iya benar. Kesultanan begitu kuat menancapkan kekuasaanya di daratan yang mereka sebut sebagai tanah kemakmuran. Setiap kampung di daratan ini mesti memberikan upeti setiap masa yang telah ditentukan. Upeti itu berupa beberapa pikul paku yang kemudia akan diserahkan oleh Sultan Palembang. Masa itu masyarakat di kampung-kampung telah mengenai pengolahan besi terlebih dahulu. Namun sayangnya kebiasaan memberi upeti itu tidak dapat dilaksanakan oleh sebuah kampung.” Pak tua menarik napas.

”Kau tau apa yang kemudian terjadi” tanya pak tua.

”Kampung mereka dibakar.” tebakku.

”Iya. Cerita seperti ini memang mudah ditebak, hampir setiap dongeng yang kau tulis ulang pun bercerita seperti inikan?” tanya pak tua kembali.

Aku tak mau merespon ucapanya, karena semakin aku banyak bicara lelaki yang tak kukenali ini semakin mengetahui jalan pikiranku.

”Setelah kampung itu dibakar, muncullah timah logam dalam debu. Sejak saat itu Kesultanan lebih tertarik upeti berupa logam timah dibanting paku yang selama bertahun-tahun menjadi upeti.”

Orang muda sepertimu hendaknya lebih mengenal diri, kenali tempat lahirmu, baca tanda disetiap jejakmu, dan setelah itu barulah seberangi pulau ini dan temukan bagian dari daratan Bangka dan Belitung yang dulu telah lama hilang dari asalnya. Dan Kau Akan temukan di sana.” lelaki itupun membalikan tubuh lalu pergi.

Sepeninggalan lelaki yang tak kukenal tadi, tubuh ini mulai bergemetar dan nyeri mulai menusuk-nusuk persendian. Aku menarik napas, melengkung di pingiran dermaga. Serasa akan kususul pak tua itu -- tetapi kibas angin pelabuhan begitu liar menampar pipi. Mataku pun mulai dipenuhi burung layang-layang yang berkeliaran. Kulihat mereka seperti mengintai atau barangkali siap membawaku terbang. Tapi itu mungkin khayalan semata. Pastinya napasku terengah-engah. Dengan sigap entah dari mana datangnya, tiba-tiba sepasang lengan yang kokoh menangkap tubuh – hampir terpuruk menyentuh pembatas dermaga, yang kulihat sesaat kemudian hanyalah kolam pelabuhan dengan riak-riak asinnya tempat ikan-ikan kecil bermain.

”Hei,..” kalimat singkat sayup-sayup itu mulai terdengar menyambut diri yang perlahan mampu menggerakkan sebagian tubuh.

”Bertemu dengan pak tua rupanya kau.” tebak lelaki di sisi kiri dipan, tempat tubuhku terbaring. ”Ha,..pasti kau kebingungan dari mana aku mengetahui. Sudah, jangan kau pikirkan, saat ini, kau minum sajadulu!” lelaki itupun kemudian menyodorkan secangkir minuman hangat. Dari aromanya aku tahu kalau isi cangkir itu adalah air jahe, tapi alangkah terkejutnya ketika tegukan pertama, yang kurasa bukan air jahe yang biasa kuminum dulu ketika masih SMA.

”Kenapa kau pikir itu air jahe,...memang aromanya sama seperti terkamu tapi ini adalah minuman tradisional kampung kami, yah,...sama seperti jamu tradisional jika kau berada di tanah Jawa.” jelas lelaki itu kemudian.

”Ia selalu datang sesukanya dan kemudian meninggalkan sesuatu yang tak jelas seperti saat ini.” lelaki itu lagi-lagi menyampaikan sesuatu yang tak sedikitpun kumengerti.

Dan Aku Terdiam.***

Sungailiat 2007 – Jakarta, 11 Juli 2009

Cerpen Koko P Bhairawa ini telah dipublikasi di halaman Budaya Bangka Pos, edisi Minggu 12 Juli2009

Minggu

Dan Kau Telah Temukan

Cerpen ini telah dipublikasi di halaman budaya BANGKA POS (Bangka Belitung), edisi Minggu 28 Juni 2009


Apakah kicau burung-burung di kala pagi lebih baik dari pada teriakan mesin-mesin tambang di sisi utara perkampungan. Aku satu dari sekian banyak manusia yang kerap menemukan suara-suara tak jelas ketukan atau syair-syair tanpa pencipta yang didendangkan oleh penghuni di sisi lain pulau itu.

”Yah, beginilah pulauku. Sebuah daratan yang terbentuk dari gumpalan-gumpalan pasir hitam yang kemudian kukenal dengan sebutan timah--begitupun pasir putih yang begitu mempesona, hingga bisa menambah daratan di negeri singa yang mampu menukar butihan pasir dengan wewangian lembaran bernilai.”

”Usss.....ssss, jangan keras-keras berkata nanti terdengar angin--lalu disampaikanya pada penghuni lain!” suara lirih menggoda.

”Lalu salah jika mocong ini berbunyi dan mengeluarkan rangkaian kata yang sedikit pedas?”

”Kurasa tak terlalu, mungkin lebih pedas cabe yang tergigit tadi—karena cepat terasa dan langsung membutuhkan gula atau air sebagai penawar.” bisik mulai menggerogoti ruang di telinga kiri.

”Ah...., sudah jangan kau panasi suasana yang sudah semakin akut. Kepadatan penghuni jalanan cukup membuat orang-orang merasa lelah termasuk dia, jadi bila kau tambahkan dengan bumbu tadi maka habislah cerita kita—karena ia akan pergi ke negeri dongeng dan bercumbu dengan kekasihnya.” lirih suara menggoda.

”Ehm...aku tak mau ke negeri dongeng—karena semua disana hanya khayal dan ketika tersadar semua yang kutinggalkan semakin bertambah, jadi lebih baik aku ikut melewati semuanya dengan mata terbuka tetapi mulut tak menganga.”

Helai kain yang menutup diri lepas satu persatu dan jatuh di lantai yang mulai berganti warna bersama potong bulan yang semakin meninggi.

”Zzzzzzzzzzzzzzz”

”Hei, kenapa kau terdiam?” bisikan pindah di telinga sebelah kanan.

”Aku terjebak dalam keliaran malam yang menjemput, bulan diatas sana mungkin tersenyum padaku, kutemukan kau dalam rinai air mata yang jatuh dipundak dan ingin kuhantarkan hangat pada jiwa yang hampa.”

”Sebenarnya menatapmu dalam mimpipun aku menjadi lelah, mata terlalu cepat jatuh dan kehilangan selera. Ups..ada yang bertanya pada bisik di gelap hari—aku ada dimana ketika rasa mulai tertambat?”

”Sudahlah jangan kau cemarin otakmu yang mulai kelebihan beban itu dengan hal-hal yang memuakan. Mari tidur dan nikmati keindahan alam barzah,..” kembali, lagi dan lagi bisikan itu hadir di sisi kiri telinga.

Mata menatap tajam di sisi selatan ruang, di atas meja tergeletak sebuah majalah dengan terselip coretan merah melingkar. Halaman majalah itu tampak masih mulus, dan aroma khas kertas cetak begitu menyengat ketika hidung didekatkan.

Dahulu ramai kapal-kapal berlayar dan melewati perairan celah diantara dua pulau, Belitung dan Bangka. Namun, tak sedikit diantaranya celaka di Selat Gaspar itu. Kini, jalur laut berbentuk corong, dimana air yang berwarna biru kehijauan menyimpan sekawanan batu dan gosong karang kembali ramai, lantaran penyelam pengumpul teripang menemukan balok koral yang penuh dengan keramik peninggalan Dinasti Tang.

”Ayolah jangan kau buat lagi otakmu berputar, letakkan majalah itu” sisi kanan coba membujuk.

”Bersegeralah tidur, agar besok kau hirup udara pagi bersama suara jagomu”

”Kenapa kau begitu menikmati dongeng tentang kapal karam yang membawa sekitar 55.000 mangkuk yang dibuat ditempat-tempat pembakaran propinsi Hunan, puluhan mil dari tempatmu tinggal.” nada meninggi mulai berkeliaran di sisi kiri.

Aku tak sedang menikmati dongeng, tak salah bila kutahu tentang pulauku lebih banyak – walau aku tak sepulau.

”Ini dongeng kawan, hanya kebetulan belaka yang dihadirkan oleh alam dan para penyelam yang kata majalahmu itu telah menemukan situs arkeologi laut terpenting di Asia Tenggara.” kanan dan kiri terasa berisik dengan lontaran kata.

Ketidak setujuan bukan sebuah pilihan atas penemuan kapal layar tradisional Arab bertiang dua ”dhow” dari abad kesembilan yang bermuatan penuh kerajinan emas, perak dan keramik dari tanah Tiongkok. Ini benar, dan majalah telah dengan gamblangnya memuat tiap foto dan esai secara lengkap.

”Ah,..itu bisa-bisa penulisnya,...”

”Sudahlah hidupmu terlalu banyak dongeng,...” kiri dekat menggoda dengan ejekan tak mengenakan.

Ada sebuah pelayaran terbesar yang pernah hadir di sekitar pulau.

”Mulai lagi kau berdongeng kawan,..”

Tat kala laksamana besar Cheng Ho berlayar di 1405, tidak kurang 317 armada mengiringi beliau. Tiongkok menjadi tak terkalahkan di wilayah laut. Kemegahan ini pun menjadi bagian terpenting dalam perjalanan para saudagar Tiongkok yang ikut mendikte perniagaan di penjuru dunia. Ironisnya di dalam negeri sendiripun mereka ikut didikte oleh kebudayaan dan nilai-nilai asing. Setidaknya Confucius telah mencatat bagian itu.

”Kawan apalagi ceritamu di malam yang mulai merayap hingga menaikan selera tidur dan kemudian menghempaskannya hingga matapun terbelalak.” sepertinya sisi kanan mulai menyerah.

878 Masehi, setengah abad lebih sedikit setelah kapal ”dhow” karam. Pemimpin pemberontakan Huang Chao membakar dan menjarah Guangzhou, membunuh puluhan ribu warga muslim, yahudi, kriten dan parsi. Tak lama setelah berakhirnya perjalanan Cheng Ho, ketika Columbus mendarat di Dunia Baru. Pemikiran-pemikiran Confucius mulai terbukti; Tiongkok membakar armada kapalnya dan mulai menutup diri. Jalur-jalur perdagangan diabaikan hingga bangsa Portugis mulai mengambil alih.

”Kawan terbayang, tentang ramainya balok putih timah dan berton-ton muatan kapal membawa lada keluar dari pulau dan menjajah ditiap-tiap rumah tuan-tuan Eropa. Sedang kita menjadi terjajah oleh mereka.” si kiri menjadi tertegum dan berasumsi.

”Lalu kini apa yang kita nikmati” sisi kanan bertanya.

Sekarang ramai sudah dendang tanpa partitur dilantunkan ditiap terang hari dari penjuru pulau, meninggalkan dulang dikala musim nganggung, dan menyemarakan kotak-kotak putih di langgar dan masjid. Menjejalkan bangunan tinggi atas nama pembangunan dan menghilangkan ruang terbuka hijau. Menjajah laut perairan dengan jala-jala asing. Kesemuanya bukan milik kita – bukan gawe kite. Tidak di daratan, tidak juga di lautan, negeriku menjadi incaran banyak orang.

Sekarang subuh telah memanggil, mata mulai merapat,..

”Yah,..dan Kau Telah Temukan,..” kiri dan kanan bersorak.

”Kau Telah Temukan,..insomnia”,..*** (KOKO P. BHAIRAWA)

Jumat

Membatu

LANGIT terasa hampa dalam dingin malam yang telah berintegral dengan hujan. Serpihan air tak henti menjatuhkan diri, kemudian dengan bersamaan dan perlahan menghujam pada tiap lapisan tanah. Namun, diantara semua, ada juga yang tak mampu merapatkan diri hingga ke dasar paling dalam. Mereka sepertinya kehabisan energi sehingga hanya mampu mengelompokkan diri pada genangan di permukaan. Tapi pada lensaku itu tak ada, kini. Kuterus menjejak, pepohonan terlihat melebarkan tawa menyambut kedatangan. Tunas-tunas tampak asyik memainkan tiap butir air yang jatuh mengenai tubuh hijaunya. “Indah betul negeri ini!”.

Sesaat jejak mengecil bersama gemertak rumpun bambu. Daun-daunnya berayun manja.

“Kau telah lama tak datang!”

“Apa kau tak rindukan kami?”

Kini jejak benar-benar terhenti. “Rinduku telah tersayat pada tiap celoteh burung-burung gereja yang acapkali mengabari duka kekasih.”

Pada kelam hari kutemukan ada yang duduk bersilah pada pokok pohon yang telah ditinggalkan pucuk-pucuk kuning, ranting-ranting kopong dan getah menyengat. Sebelah tangannya terbuka menadah tetes liur punggawa, sedang satu bagian jari-jari terlukanya asyik memainkan tiap helai rambut sang dewa. Ia telah meluruhkan pekat semerbak tropis – melambungkan darah hingga titik tertinggi pada pendewasaan jiwa. Sesaat berlalu, dari hitam malam satu persatu penghuni mengitarinya.

“Hai, apa yang kau lakukan disini?” dari rimbun malam sesosok tampak sudah. Pandangannya jauh ke depan. Ia telah menunggu sejak kepergiaan kuterakhir. Dan selama itu, pada kumpulan bebatuan ia mengawasi semua yang datang dan pergi.

“Aku menunggumu!” kata-katanya seolah sedang marah. Tapi sungguh aneh, aku tak mengenal siapa dia. Kenapa ia marah padaku?

“Kau tak mengenalku?”

“Kau yang menjadikan aku menunggu.”

Kulepaskan pandangan dengan seksama, sekeliling begitu gelap hanya beberapa nyala pelita yang menatulkan cahaya. Aku kemudian merendahkan tubuh, tangan mengusap-usap tepat dibagian bawah tubuh. Sesuatu begitu keras mulai kurasakan. Pusat syaraf pun mengamini.

“Nah, kau sadar kenapa aku menunggu?”

“Itu ulahmu!” suaranya semakin meninggi sembari melirikkan pandang.

“Setiap jejak yang kau tinggalkan menjadi rahmat bagi orang-orang disana. Kata orang-orang jejakmu menjadikan mereka terhormat dan dihormati. Hingga wajar saja, pada tiap jengkal yang telah berlumpur dan berwarna coklat airnya menjadikan orang-orang berbondong datang dengan membawa batu-batuan. Orang-orang lalu menabur pada tiap jejakmu. Sampai akhirnya tak ada lagi kubangan tempat sapi mandi ataupun kambing sekadar menumpang minum” pandangannya kembali menjauh. Entah sadar atau tidak kalau diri telah begitu dekat dengannya.

“Kau sadar sekarang? Jangan mengelak!”

Aku hanya membulatkan mulut, sepertinya molekul ingatanku terlalu padat. Rongga pun terlalu sesak. Agak lama aku memilah berkas mana yang berhubungan dengan ucapannya. Tapi hingga seperempat perjalan jam belum juga kutemukan.

“Kau telah membuat semua berubah, orang-orang yang dulunya hidup dalam surga kau kenalkan dengan buah-buah terlarang. Dulu mereka hidup dengan damai sampai kau dan jejakmu menjadikan semuanya aneh. Dan sungai yang telah memberikan banyak ikan menjadi sepi dari kail ataupun jala, bahkan mulai ditinggalkan perahu-perahu berjiwa. Sawah ladang tempat padi dan sumber penghidupan hadir menjadi lengang dari sabit ataupun parang panjang. Ternak-ternak tanpa kesusahan mendapatkan minum dan panganan di sabana. Semunya menjadikan orang-orang itu betah berlama-lama mendiami negeri surga ini”

“Ha...ha...ha...!” dentum tawa keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian matanya yang merah memandangku lekat, mimiknya perlahan berubah penuh kebencian. Aku semakin menjadi orang bodoh dihadapannya.

“Kau datang sebagai khalifah di negeri surga ini.” lanjutnya.

“Semua kata yang keluar menjadi pedoman bagi orang-orang itu, dan mereka bertingkah seperti yang kau tuturkan.”

Aku benar-benar tak mampu menuturkan sedikit kata. Tak ada yang bisa diterima oleh memori otak kecilku. Ucapannya menjadikan aku semakin terpojok dengan hal-hal gila dan benar-benar tak kuketahui. Hingga migren dengan cepatnya menyerang. Aku kemudian menjejak menjauh. Pantulan pelita yang kulihat, begitu mempesona. Cahayanya terlihat memanjang mengikuti tubuh anak sungai.

Tapi tiba-tiba derap kaki membelah kesunyian malam. Mataku belum menangkap siapa-siapa pemilik derap itu. Namun, yang terlihat hanyalah nyala api yang menjilati sisa hujan.

“Nah, kau masih belum sadar juga. Orang-orang itu kembali mendatangi tempat dimana buah-buah terlarang itu ada. Mereka sekarang menjadi kehilangan selera berlama-lama menjemur padi, menanamkan kaki pada lumpur sawah, atau menarikan jemari pada tiap sela pucuk-pucuk rumpun lada. Alhasil, mereka menjual semua yang dipunyai. Mulai dari padi, lada sampai hektar garapan harus berganti dengan setumpuk kertas bernilai.”

Aku terhenyak. Tak kupikirkan kalau yang ia maksud adalah ini semua. Ketika, aku mulai berhasil menarik berkas itu. Dengan gagahnya sekelompok orang melewati tubuhku. Aku mulai merasa aneh. Setelah kelompok pertama berlalu, tubuh pun kucoba berdiri. Tapi belum setengah kutegakkan tubuh, kelompok kedua tanpa menghiraukan menjejak ditubuhku yang mulai kehilangan udara. Perlahan mataku kabur dan akhirnya tak terlihat mereka yang ada diatas tubuhku.

“Mereka tak lagi mengenaliku. Mereka lebih kenal dengan buah-buahan terlarang yang dulu pernah kubagikan pada mereka?”

Pada detik berikutnya tubuhku telah merapatkan diri dengan jalanan yang telah berbatu. Lalu ruang-ruang itu menjadi sepi dan kembali menyendiri menyaksikan tubuhku yang dipenuhi mimpi. Membatu bersama jalanan yang telah berbatu.***

Palembang, 15 April 2006

by: Koko P Bhairawa