blog sastra dari koko p bhairawa (prakoso bhairawa putera), memuat cerita pendek, puisi, esai, cerpen remaja,info sastra, dan buku terbitan.
Rabu
Lomba Puisi dan Penyair sempena Pesta Penyair Indonesia
I. Tanggal Pelaksanaan
Jum’at-Minggu, 20 – 22 Nopember 2009 Taman Budaya Sumatera Utara
Senin, 23 Nopember 2009 to Parapat – Danau Toba
Organised
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan
Dewan Kesenian Medan
Laboratorium Sastra Medan
II. Pokok Pikiran
Pesta Penyair Indonesia 2009 - The 3rd Medan International Poetry Gathering, merupakan kelanjutan dari pelaksanaan sebelumnya tahun 2007 dan 2008 dengan konsep pemikiran yang sama. Yang tampak baru dalam penyelengaraan Pesta Penyair Indonesia - The 3rd Medan International Poetry Gathering tahun 2009 ini adalah dilaksanakannya lomba (baca) puisi karya para penyair Indonesia yang telah mencatatkan dirinya ikut dalam pesta ini.
Puisi dan Penyair dengan latarbelakang daerah serta dinamika sosialnya dalam peradaban kebudayaan, politik, dan ekonomi – selalu ada yang tidak mendapat kesempatan yang sama untuk dihargai dan diapresiasi. Kebanyakan dari mereka harus melakukan gerilya dan pertarungan yang melelahkan untuk hadir dan mencatatkan diri dalam berbagai even baik nasional maupun internasional.
Akan tetapi, dalam rangkaian lomba puisi dan penyair yang dikait dengan penyelenggaraan Pesta Penyair Indonesia - The 3rd Medan International Poetry Gathering, semua penyair mendapatkan hak yang sama. Tidak ada perbedaan usia apalagi karya – siapapun boleh ikut serta dalam pesta ini.
Siapapun memiliki hak mencatatkan diri serta memperkenalkan karya puisinya, Apa yang terbaca dan terindentifikasi atas perkembangan puisi mutakhir hari ini, hakikatnya adalah memberi kesempatan seluas-luasnya bagi penyair mengekspresikan ragam gaya dan bentuk kepenyairannya. Karena itu relativitas gaya dari tradisi sastra yang berkembang di masing-masing daerah memiliki ciri khas sendiri menurut geografis, suku, dan adat istiadatnya.
Demikian juga halnya dengan pemakaian lambang dan Simbol-simbol bahasa yang muncul dari setiap karya, baik yang menggunakan metafora, analogi, atau personifikasi dalam imajinasi penyair serta hubungannya dengan pemakaian bahasa lokal yang bersifat kedaerahan. Beberapa pendekatan struktural di samping persoalan bahasa dan problematiknya, puisi Indonesia mutakhir menurut bahasa sastra yang disampaikan penyair bisa jadi merupakan cerminan dari persoalan yang terjadi disekitarnya.
Pesta Penyair Indonesia - The 3rd Medan International Poetry Gathering dimaksudkan untuk mempertemukan seluruh penyair Indonesia yang berada di luar wilayah kedaerahannya tanpa memandang usia, suku, agama, dan golongan. Hal ini merupakan perwujudan dari upaya membentuk ruang komunikasi bersama serta memperarat hubungan silaturahmi sesama penyair dan masyarakatnya.
Menyadari kemungkinan adanya perbedaan tradisi sastra yang berkembang. Berbagai konsep dan proses kreatif penciptaan puisi pada gilirannya memungkinkan dilakukan pemetaan untuk menganalisis setiap perkembangan yang terjadi dalam satu dasawarsa terakhir. Dengan tujuan yang lebih konkrit membaca fenomena tradisi sastra dalam perkembangannya di kelompok pluralisme sosial masyarakat Indonesia mutakhir.
Penyair dan karya puisi bisa jadi memiliki keterkaitan yang kuat dengan tradisi masyarakatnya. Akan tetapi, secara geografis, suku, agama, dan adat istiadat, sejumlah karya lain bisa jadi tidak memiliki batas keterkaitan dan keterikatan pada bentuk dan gaya penulisan. Karena itu, lingkungan kehidupan manusia dan benda-benda selalu dijadikan sebagai objek yang tidak hanya bersinggungan dengan dunia realitas, tetapi juga kontribusinya terhadap alam dan makhluk hidup.
Sasaran yang akan dicapai melalui Pesta Penyair Indonesia ini, mempertemukan setiap perbedaan. dengan semangat kedaerahan, membaca dan mengindentifikasi tradisi sastra yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat multietnis. Puisi Indonesia mutakhir dari para penyair yang kreatif dan produktif. Diharapkan akan memberi sumbangsih pemikiran bagi kemajuan dan perkembangan sastra ke depan, menciptakan keserasian dan keseimbangan bagi perkembangan sastra daerah dengan warna lokal sesuai budaya, suku, agama, dan adat istiadat.
Penyair dengan puisinya tetap aktif membangun kepekaan dalam berbagai lintas suku, agama, budaya, dan adat istiadat. Gerakan partisipatif pada relasi-relasi yang dibangun dengan keterkaitannya dalam dinamika sosial, politik, ekonomi, agama, dan kebudayaan yang hidup seiring dengan makin berkembang negara dan tata kota yang progresif.
III. Peserta dan Ketentuan Karya
· Peserta umum adalah penyair yang berdomisili di dalam wilayah Indonesia
· Peserta khusus adalah Penyair dari luar negeri yang memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia
· Mengirimkan karya puisi terbaru, belum pernah dipublikasikan atau diterbitkan dalam bentuk buku atau sejenisnya, maksimal 5 judul puisi
· Tema puisi bebas.
· Ditulis dalam bahasa Indonesia dan jika menggunakan bahasa daerah harus disertakan terjemahannya.
· Panjang puisi minimal 500 karakter maksimal 2000 karakter dan tidak mempertentangkan SARA
· Puisi tidak sedang diikutkan dalam lomba atau dalam kegiatan lainnya
· Sangat diharapkan membuat pernyataan secara tertulis tentang karya merupakan asli ciptaan sendiri, bukan saduran/ terjemahan dan bersedia untuk dibacakan
· Puisi akan diterbitkan dalam bentuk buku dan diberikan kepada setiap penyair 2 exemplar tanpa honorarium atau royalti.
· Batas akhir registrasi pendaftaran peserta dan pengiriman puisi tanggal 1 Oktober 31 Oktober 2007..
· Pengiriman puisi dan pendaftaran peserta melalui email : bangafrion@yahoo. com (koordinator panpel wilayah Medan - Sumatera dan atau jack_efendi@ yahoo.com (wilayah Jakarta, Jawa dan sekitarnya)
· Contact person: Afrion 081263423144, Antilan Purba 08126579407 (Medan) Jack Effendi Santoso 08569024880, Sarah 085715369270 (Jakarta)
`
IV. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Taman Budaya Sumatera Utara – Medan
Jum’at, 20 Nopember 2009 09.00 – 18.00 Registrasi peserta luar propinsi Sumatera Utara
dan Luar Negari
10.00 – 12.00 Lomba Puisi Penyair
12.00 – 14.00 Coffe Break/ISHOMA
14.00 – 18.00 lanjutan Lomba Puisi Penyair
18.00 – 19.30 ISHOMA
19.30 – 22.00 Panggung Kreatif /Gelar Puisi Penyair
22.00 – Acara bebas mandiri
Sabtu, 21 Nopember 2009 07.00 – 08.00 Serapan pagi
08.00 – 12.00 Pembukaan Pesta Penyair Indonesia
12.00 – 13.30 ISHOMA
13.30 – 18.00 Diskusi/Dialog Sastra
18.00 – 19.30 ISHOMA
19.30 – 22.00 Panggung Kreatif/Gelar Puisi Penyair
22.00 – Acara bebas mandiri
Minggu, 22 Nopember 2009 07.00 – 08.00 Serapan pagi
08.00 – 12.00 Diskusi/Dialog Sastra
12.00 – 13.30 ISHOMA
13.30 – 18.00 Diskusi/Dialog Sastra
18.00 – 19.30 ISHOMA
19.30 – 22.00 Panggung Kreatif/Gelar Drama
22.00 – Acara bebas mandiri ke Danau Toba
V. Terima Kasih
Terima kasih atas perhatian dan partisipasi semua pihak atas terselenggaranya Pesta Penyair Indonesia 2009 Sempena The 3rd Medan International Poetry Gathering
Medan, 3 Oktober 2009
Afrion
Ketua Pelaksana
Selasa
Lelaki dengan Kopia Resam
TIGA jam sudah berlalu, jet foil yang membawaku baru saja merapat di pelabuhan Muntok. Di sudut pulau, terlihat jelas sebuah mercusuar yang masih nampak gagah menatap setiap kapal yang hendak singgah. Ia seolah penjaga tua yang enggan dianggap renta..
“Uhs..shh!” kutarik nafas panjang sembari memperbaiki posisi duduk. Penatnya perjalanan tak begitu kurasakan. Semuanya terkalahkan oleh kerinduanku pada emak, bapak, dan adik Tyo yang masih kelas enam SD. Bagaimana tidak dua tahun bukan waktu yang singkat. Dan selama kurun waktu itu, aku benar-benar tumbuh bersama keras hari-hari didaratan – menuntut ilmu dan bekerja untuk membiayai kuliah.
Moncong jet foil mulai mencium pembatas dermaga, dan langsung disambut belasan laki-laki berseragam. Mereka dengan tergesa naik ke dek kapal, berebut menawarkan jasa angkut barang. Aku masih belum beranjak dari kursi. Pandangan kini kuarahkan pada bibir dermaga. Beberapa mobil minibus Mitsubishi L300 berjejer, siap menjemput penumpang yang akan meneruskan perjalanan ke kota lain.
”Maaf bang, ada barang?” Tanya seorang buruh angkut membuyarkan lamunanku.
”Ada.” jawabku sembari menyerahkan karcis pas barang.
”Tiga koli.” lanjutku. Buruh bertubuh gempal dengan mengenakan celana setengah tiang itu kemudian berlalu. Sementara aku mulai keluar dari kapal.
Siang itu, matahari begitu menyengat dan memaksaku menanggalkan jaket pemberian bapak satu tahun silam – sebagai kado ulang tahun. Sambil menunggu buruh mengambil barang. Aku berjalan ditepian dermaga yang panjangnya tak lebih dari lima puluh meter. Disepanjang dermaga penuh sesak dengan penumpang, para penjemput, kuli pelabuhan sampai para tukang ojek. Belum lagi ditambah kapal pengangkut barang di kanan dermaga yang juga sedang melakukan kegiatan bongkar muat. Semuanya membaur menjadi satu di pelabuhan yang konon usianya telah lebih dari dua ratus tahun.
”Bang, pulang ke mane?” sekali lagi buruh angkut membuyarkan lamunanku.
”Ke Sungailiat!” jawabku singkat. Tak banyak yang kulakukan setelah itu. Selain melepaskan kembali pandangan ke setiap sudut pelabuhan. Barangkali tak banyak yang tahu akan keberadaan dermaga yang dibangun pada masa pemerintahan tuan-tuan Inggris, sekitar 1812-1816.
”Muntok adalah pelabuhan pertama yang dibangun di Bangka. Pemerintah Inggris melihat posisi kota Mentok yang terletak di pantai selatan Pulau Bangka bagian barat sangat strategis, karena langsung berhadapan dengan Palembang.” begitu kata pak Taufik guru sejarah SMA dulu.
Sesaat kemudian aku telah berada di ujung demaga. Posisi pelabuhan kecil ini begitu tersembunyi di dalam teluk, tentunya menguntungkan bagi kapal-kapal untuk berlindung dari ombak musim barat dan musim utara. ”Mungkin inilah yang sempat membuat Thomas Stanford Raffles kecewa ketika pemerintah Inggris menyerahkan Bangka kepada Belanda sebagai bagian dari perjanjian Traktat London ratusan tahun silam.” pikirku kemudian.
”Sudah lama tidak pulang ya?” tiba-tiba dari belakang datang suara mengejutkan perjalanan otak.
Hanya anggukan yang kuberikan, lelaki itupun tersenyum dan mendekat. ”Dulu diujung dermaga ini ada sebuah jembatan yang menjorok ke laut. Penumpang kapal-kapal besar biasa naik-turun menggunakan jembatan itu ke kapal yang lego jangkar di perairan.” lelaki tadi dengan santainya mulai bercerita tanpa diminta.
”Anak muda seperti dirimu sudah cukup sering kutemui di sini, yah sama seperti yang kau lakukan sekarang.”
Lelaki itupun terdiam sejurus kemudian. Sembari membenarkan letak kopiah resam yang menutupi rambut uban, dari bibir tuanya mulai bertutur lagi.
”Namun, jembatan itu rusak berat akibat dibom Jepang. Pada tahun 1949, sesaat sebelum penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Republik, sisa jembatan besi tersebut dibongkar seluruhnya oleh Belanda.”
”Ehm....Uhs....dan yang tersisa, seperti yang kau lihat sekarang. Hanyalah kolam pelabuhan seluas dua hektar dengan kedalaman air antara tiga sampai empat meter.”
”Bangka sesungguhnya membentang dari dua hingga tiga derajat ke arah timur. Kau pasti telah mengunjungi pulau itukan?” tanya pak tua.
”Sumatera?” jawabku.
”Gagah betul pulau ini dengan membentuk sebuah selat kecil. Ramai kapal berlayar dari Jawa maupun Sumatera menuju Eropa, Tiongkok, dan Jepang. Ia menjadi bagian penting dalam catatan sejarah pelayaran Nusantara yang hampir-hampir tak pernah mau dicatat.”
Aku terdiam dan semakin mendekat pak tua yang terus berceloteh seperti pelajaran sejarah.
”Tak hanya Timah atau pun Lada Putih yang tiap hari keluar pelabuhan ini, tetapi gadis-gadis cantik berparas melayu ikut mereka bawa dan para cukong hanya tertawa dipinggiran dermaga.”
Kubalikan tubuh dan menghadap sisi lain dari lelaki tua tadi, aku masih ingat cerita tentang bijih timah yang mendekati permukaan tanah – hingga putih itupun dengan mudah ditemukan orang-orang dari Kesultanan Palembang.
”Kenapa kau mempercayai dongeng itu juga” tiba-tiba lelaki itu kembali memotong perjalanan otakku.
Aku seolah-olah lelaki keci yang bodoh dengan alur pikirku pun mampu dibacanya. ”Jangan-jangan dia tahu juga kalo dari tadi aku kebingungan” terkaku.
”Jangan kau persulit dirimu sendiri, lebih rileks akan membuatmu menikmati perjalanan.”
Spontan kedua ujung alisku bertemu. ”Apalagi maksud lelaki tua ini”
”Pulau yang kau kenal bernama Bangka ini, dulunya benar ada sejumlah kecil timah metalik muncul ketika sebuah lapangan dibakar untuk dijadikan ladang oleh kakek buyutmu.”
”Tapi itu serta merta bisa kau yakini kebenarannya, atau kau lebih suka versi dongeng yang kusebut dengan dongeng debu timah.” cerocos lelaki tua mencoba membuatku tertarik.
”Debu Timah?” pikiranku semakin kacau dan tak jelas.
”Iya benar. Kesultanan begitu kuat menancapkan kekuasaanya di daratan yang mereka sebut sebagai tanah kemakmuran. Setiap kampung di daratan ini mesti memberikan upeti setiap masa yang telah ditentukan. Upeti itu berupa beberapa pikul paku yang kemudia akan diserahkan oleh Sultan Palembang. Masa itu masyarakat di kampung-kampung telah mengenai pengolahan besi terlebih dahulu. Namun sayangnya kebiasaan memberi upeti itu tidak dapat dilaksanakan oleh sebuah kampung.” Pak tua menarik napas.
”Kau tau apa yang kemudian terjadi” tanya pak tua.
”Kampung mereka dibakar.” tebakku.
”Iya. Cerita seperti ini memang mudah ditebak, hampir setiap dongeng yang kau tulis ulang pun bercerita seperti inikan?” tanya pak tua kembali.
Aku tak mau merespon ucapanya, karena semakin aku banyak bicara lelaki yang tak kukenali ini semakin mengetahui jalan pikiranku.
”Setelah kampung itu dibakar, muncullah timah logam dalam debu. Sejak saat itu Kesultanan lebih tertarik upeti berupa logam timah dibanting paku yang selama bertahun-tahun menjadi upeti.”
”Orang muda sepertimu hendaknya lebih mengenal diri, kenali tempat lahirmu, baca tanda disetiap jejakmu, dan setelah itu barulah seberangi pulau ini dan temukan bagian dari daratan Bangka dan Belitung yang dulu telah lama hilang dari asalnya. Dan Kau Akan temukan di sana.” lelaki itupun membalikan tubuh lalu pergi.
Sepeninggalan lelaki yang tak kukenal tadi, tubuh ini mulai bergemetar dan nyeri mulai menusuk-nusuk persendian. Aku menarik napas, melengkung di pingiran dermaga. Serasa akan kususul pak tua itu -- tetapi kibas angin pelabuhan begitu liar menampar pipi. Mataku pun mulai dipenuhi burung layang-layang yang berkeliaran. Kulihat mereka seperti mengintai atau barangkali siap membawaku terbang. Tapi itu mungkin khayalan semata. Pastinya napasku terengah-engah. Dengan sigap entah dari mana datangnya, tiba-tiba sepasang lengan yang kokoh menangkap tubuh – hampir terpuruk menyentuh pembatas dermaga, yang kulihat sesaat kemudian hanyalah kolam pelabuhan dengan riak-riak asinnya tempat ikan-ikan kecil bermain.
”Hei,..” kalimat singkat sayup-sayup itu mulai terdengar menyambut diri yang perlahan mampu menggerakkan sebagian tubuh.
”Bertemu dengan pak tua rupanya kau.” tebak lelaki di sisi kiri dipan, tempat tubuhku terbaring. ”Ha,..pasti kau kebingungan dari mana aku mengetahui. Sudah, jangan kau pikirkan, saat ini, kau minum sajadulu!” lelaki itupun kemudian menyodorkan secangkir minuman hangat. Dari aromanya aku tahu kalau isi cangkir itu adalah air jahe, tapi alangkah terkejutnya ketika tegukan pertama, yang kurasa bukan air jahe yang biasa kuminum dulu ketika masih SMA.
”Kenapa kau pikir itu air jahe,...memang aromanya sama seperti terkamu tapi ini adalah minuman tradisional kampung kami, yah,...sama seperti jamu tradisional jika kau berada di tanah Jawa.” jelas lelaki itu kemudian.
”Ia selalu datang sesukanya dan kemudian meninggalkan sesuatu yang tak jelas seperti saat ini.” lelaki itu lagi-lagi menyampaikan sesuatu yang tak sedikitpun kumengerti.
Dan Aku Terdiam.***
Sungailiat 2007 – Jakarta, 11 Juli 2009
Puisi Koko P Bhairawa: Nda
mendarat senyum dimata
sesaat sebelum kedua kelopak membuka
kutemukan di layar netbook, dan pagi menyapa,..
pada dinding sesak sudah kata
status bertukar
tetap simpul bibir merekah di retina
tak bertemu di pagi, pesan datang di siang
sore menumpuk penat
bermula pada lembaran e-book, meruncing analisa
dan bermuara di keyboad
ada sejumput tawa di sisi lain meja
akhirnya ku tunggu di paruh waktu
seperti malam itu,
Nda,.
LT 8 WG, 24 Juli 2009